Tanda-tanda Berakhirnya Masa Jaya BlackBerry?

Blackberry adalah fenomena, sebenarnya sangat menarik kalau ada yang mengangkatnya menjadi kasus pemasaran yang sukses.

Sebenarnya Blackberry, singkatannya BB sudah ada sejak lama, sekitar tahun 1999, ketika dunia sedang disibukkan dengan internet booming jilid I. Sejak awal (sampai sekarang), BB konsisten mempunyai ciri-ciri dan fitur yang sama yaitu push mail dan keypad qwerty.

Sampai awal-awal tahun 2000-an, BB masih kalah jauh popularitasnya dibandingkan dengan keluarga PDA Palm, maupun smartphone O2 maupun HP Ipaq yang berjalan dengan OS Pocket PC (cikal bakal Windows Mobile) atau Nokia Communicator.

Walaupun populer, tetapi merk O2 tidak berumur panjang karena segera bertransformasi menjadi merk Doopood, dan sekarang menemukan jati dirinya sendiri, HTC.

Sampai pertengahan tahun 2000-an, belum banyak yang mengenal BB. Smartphone yang dianggap paling jagoan pada masa itu masih Nokia Communicator yang karena besarnya tidak bisa dimasukkan ke saku.

“Kalau punya HP mahal kan memang perlu ditenteng agar bisa pamer, cuma HP murahan yang ukurannya perlu kecil agar bisa diumpetin didalam saku”

Ketika punggawa pasar HP yang masih dikuasai oleh Nokia, Samsung, dan SonyEricsson mulai diganggu oleh kedatangan HP murah made in China yang diklaim sebagai HP lokal, diam-diam BB melaju kencang kedepan nyaris tanpa promosi, tanpa iklan, tanpa rep office, bahkan tanpa service center. Bandingkan dengan HP Nokia, Samsung, Sony Ericsson yang tiada hari tanpa iklan di berbagai media.

Siapa yang mengiklankan BB dan menggerakkan penjualan BB?

  1. Operator seluler. Tentu ada alasan kuat mengapa semua operator seluler berlomba-lomba menawarkan dan menjual BB. Berbeda dengan jenis HP lain, pemilik BB perlu berlangganan “Blackberry Internet Service” (=BIS) agar bisa menerima push mail, dan menjalankan fungsi2 FB, YM, BBM, maps, browsing dan lain sebagainya. Dan untuk itu operator seluler bisa mendapatkan extra income dari layanan data BB secara rutin per bulan diluar panggilan telepon (voice) dan SMS. Langganan BIS awalnya dipatok sangat mahal, 150 ribu hingga 190 ribu perbulan dan tentu saja hal ini sangat menggembirakan pihak operator seluler yang hanya mengharapkan ARPU (=Average Revenue Per User) sebesar 35 ribu per bulan. Tanpa berlangganan BIS, smartphone BB akan kehilangan semua fungsi smartnya sehingga nyaris tidak berbeda dengan HP biasa lainnya.
  2. Pengguna BB. Pengguna awal (early adopter) BB mempunyai peran besar membesarkan pasar BB karena fitur BBM (=Blackberry Messenger) hanya akan bermanfaat kalau banyak teman lain yang bisa saling BBM-an. Namanya chatting kan tidak mungkin sendirian.
  3. Employer (=atasan perusahaan). Tidak sedikit atasan di berbagai perusahaan mendorong bawahannya menggunakan BB, bahkan tidak sedikit yang “menghadiahkan” BB kepada bawahan-bawahannya. Walaupun perangkatnya relatif mahal, tetapi dalam jangka panjang bersama-sama menggunakan BB bisa mengurangi beban biaya komunikasi, terutama biaya percakapan telepon antar operator yang mencekik leher. Namun yang tidak banyak orang tahu, mengharuskan bawahan menggunakan BB adalah salah satu cara paling menyenangkan dan legal untuk meminta karyawan agar tetap stand by 24 jam dimanapun ybs berada tanpa perlu membayar lembur.
  4. Faktor sosial. Pernah ditanyakan, “… berapa Pin BB”? Pin BB bagi sebagian orang sudah dijadikan simbol status. Tidak sedikit yang dengan bangga mecantumkannya di kartu nama, atau bahkan mempublikasikan dengan sukarela di milis, FB, “… ini Pin BB aku xxxxxxxx, tolong add ya”. Orang yang tidak punya BB merasa kastanya lebih rendah karena memang aktivitas BBM hanya bisa antar mahkluk yang kastanya sama saja.

Di dalam bisnis, aksi akan memancing reaksi. Jadi tidak melulu berupa perhitungan satu arah saja. Pemain tradisional yang terjungkal dari tahtanya Sony Ericsson, Samsung seakan mendapat amunisi baru dengan hadirnya OS Android. OS yang banyak menjiplak sifat dan fitur-fitur iPhone ini dipercaya mampu mengembalikan kejayaan mereka. Nokia yang sangat ketinggalan kereta merasa gengsi dan malu kalau baru menumpang ditengah perjalanan memutuskan tidak mengikuti rombongan Android, melainkan bersekutu dengan musuh lamanya Microsoft memproduksi Windows Phone 7. Sebelum iPhone dan BB muncul, seteru utama Nokia yang setia dengan OS Symbian adalah Windows Mobile yang terus menerus menggerogoti pangsa pasarnya.

Bagaimana dengan masa depan BB? Sulit ditebak. Tetapi ditengah-tengah gegap gempita pertarungan antara IOS Apple sendirian melawan sisa dunia yang bersenjatakan Android, nama BB semakin jarang disebut. Bermacam aplikasi baru yang dirilis lebih fokus ke IOS dan Android, bahkan satu persatu vendor aplikasi sudah mencoret BB dari pengembangan kedepan, salah satunya Seesmic sudah memutuskan menghentikan pengembangan dan dukungan terhadap platform BB.


Beberapa waktu yang lalu, CEO RIM membuat pernyataan bahwa RIM tidak mempunyai rencana mengeluarkan produk baru dalam 12 bulan kedepan. Pernyataan petinggi RIM ini langsung membuat harga saham RIM yang memang sudah rontok amblas ke titik nadir.

Ada rumor, BBM yang selama ini eksklusif hanya bisa berjalan di Blackberry akan dibuka untuk iPhone dan Android. Walaupun belum ada yang bisa memastikan rumor tersebut, namun bisa jadi ini menjadi pertaruhan terakhir RIM, bahwa kalau tidak bisa menjual device (hardware) BB lagi, paling tidak masih bisa mendapatkan income dari penjualan service BIS-nya.

Pertimbangan membuka BBM agar bisa diakses lewat device lain memang dilema yang sangat berat. Hingga saat ini, yang menopang penjualan BB, satu-satunya “kelebihan” yang membuat orang masih setia membeli BB adalah BBM. Kalau BBM dibebaskan bisa dijalankan lewat device lain, diprediksi penjualan BB akan langsung anjlok. Kalau orang masih setia menggunakan BBM, RIM bisa berharap masih tetap kecipratan rejeki lewat pelanggan yang berlangganan BIS.

Jika RIM tetap mempertahankan eksklusifitas BBM, penjualan BB tetap sulit didongkrak, paling tidak sampai sekarang belum terlihat titik terang harapannya. Pengguna iPhone, Android, maupun Nokia, baik yang mengusung Windows Phone 7 (WP7) maupun Symbian saat ini sudah mempunyai pilihan lain seperti WhatsApp yang bisa jalan disemua OS termasuk BB kecuali WP7, PingChat yang bisa jalan disemua OS, atau Ebuddy XMS yang sementara ini hanya bisa jalan di IOS dan Android. Artinya, tanpa BBM sebenarnya pengguna smartphone lain semua sudah bisa saling berkomunikasi dengan cara, fitur, dan kecepatan yang hampir menyerupai BBM.

Namun berita paling menarik lagi-lagi datang dari Apple. Konon Apple sedang mempersiapkan sebuah layanan chat iMessage. Layanan komunikasi ala BBM sudah didemonstrasikan di World Wide Developer Conference 2011 (WWDC) yang baru lalu.

The End of RIM’s Golden Age.

Update

Pembaca yang budiman, terima kasih telah membaca artikel “Tanda-tanda Berakhirnya Masa Jaya Blackberry”. Terinspirasi dari tingginya hits pembaca dan banyaknya tanggapan dari pembaca sekalian, saya mencoba melakukan survey kecil-kecilan secara online lewat http://goo.gl/OKfC3

Sebagai pertanggungjawaban kepada pembaca sekalian yang dengan sukarela mengikuti survey, bersama ini saya melaporkan hasil sementara sampai tanggal 13 Juli 2011 adalah sebagai berikut:

Profil Responden:
Pengguna Android 30%
Pengguna Blackberry 10%
Pengguna iPhone 10%
Pengguna Symbian Smartphone 25%
Pengguna Symbian non Smartphone 10%
Pengguna Windows Mobile 10%
Lainnya (Java based) 5%

Perangkat Dambaan berikutnya:
Android 40%
iPhone 35%
Windows Phone 15%
Blackberry 10%

Kecenderungan berganti dari smartphone yang dimiliki saat ini:
Pengguna iPhone 100% tetap setia ingin membeli iPhone kembali
Pengguna Windows Mobile 100% tetap setia ingin membeli Windows Phone kembali
Pengguna Blackberry 50% tetap setia, 50% akan switch ke OS lain
Pengguna Symbian 100% ingin berganti ke OS lain

Pembaca yang masih ingin berpartisipasi, silakan mengisi survey online di http://goo.gl/OKfC3


Sumber: http://kom.ps/CW4j


0 comments: